Beranda Opini
2341

ASMAT, DERITAMU DERITAKU

Oleh : Melkias Maspaitella, SE . Do all the good things you can, by all the means you can, in all the ways you can,  in all the places you can, at all the times you can, to all the people you can as long as ever you can. That is dignity (Kerjakan semua hal baik yang anda bisa, dengan semua sarana yang anda bisa, dengan semua cara yang anda bisa, disemua tempat yang anda bisa, pada semua waktu yang anda bisa, kepada semua orang yang anda bisa, sepanjang anda bisa. Itulah kebesaran) (John Wesley).

BAGIKAN VIA
Melkias Maspaitella, SE

SELAMA ini “Asmat” sangat dikenal karena ukiran kayu yang luar biasa dan sudah mendunia. Ukiran unik karena dikerjakan tangan tangan pemahat tradisional yang terlatih dan sulit dibayangkan “unexplainable”. Betapa tidak,  sebatang pohon kayu dapat mereka ubah dengan peralatan conventional menjadi sebuah ukiran bernuansa budaya Papua yang sarat makna. Ukiran ukiran yang indah ini bahkan ada yang  berukuran relative besar (3 meter tinggi, diameter 80 cm) tersimpan apik di Musem Nasional Jakarta Pusat. Konon ukiran tersebut kayunya didatangkan secara utuh dari Papua ke Jakarta dan dikerjakan oleh pemahat asli Asmat di museum tersebut. Ada pula ukiran perahu tradisional yang menggambarkan kehidupan keseharian suku Asmat. Karya seni yang  langka ini layak mendapatkan apresiasi yang tinggi dan dicatat dalam record MURI. Sejak beberapa waktu ini Asmat kembali ramai dibicarakan baik lewat media massa, medsos (facebook, twitter, W/A) maupun percakapan para pejabat di TV tanpa melibatkan petinggi atau warga Papua, dll. tetapi,   ironisnya  bukan mengenai karya seni ukir yang tinggi nilai estetikanya melainkan tentang “gizi buruk dan penyakit campak” sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan telah menelan korban jiwa sekitar 70 orang anak. Dari 70 anak yang meninggal ini, 65 meninggal karena gizi buruk dan  4 orang kena campak dan 1 tetanus (Kompas 14 Januari 2018,  Kompas TV 24 Januari 2018).

Mengidentifikasi Keadaan Gizi Buruk

Gizi buruk adalah suatu kondisi dimana tidak terpenuhinya nutrisi yang diperlukan tubuh dan akibatnya berdampak buruk pada kesehatan ibu dan anak serta munculnya penyakit lain seperti campak, diare, dll. Dalam istilah medis gizi buruk dikenal juga dengan istilah “Busung Lapar”. Ada dua jenis gizi buruk yaitu gizi buruk ringan dan gizi buruk berat. Dalam kondisi ringan biasanya disebut “gizi kurang” yang secara fisik kelihatannya tubuh anak kurus dan terganggu pertumbuhan. Untuk yang berkategory berat disebut “Gizi Buruk” yang cirri-cirinya adalah tubuh kurus, kulit kendor, tekanan jantung melemah, pucat, anemia, perut membesar, dll. Gizi buruk memang akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan tubuh dan otak anak yang  berdampak pada kualitas SDM.  Gizi buruk bukan hanya terjadi untuk  anak diluar  kandungan,  tetapi sejak didalam kandungan ketika ibupun tidak mendapat asupan nutrisi yang cukup.