Beranda Opini
144

Dahlan Iskan dan Jurnalisme Bela Diri

BAGIKAN VIA
Oleh: Sirikit Syah

PERISTIWA penahanan Dahlan Iskan, tersangka korupsi aset BUMD yang pernah dipimpinnya, memiliki beberapa dimensi yang menarik untuk dicermati, terutama bagi pembelajar ilmu komunikasi-jurnalistik.

Pada dimensi jurnalistik, Jawa Pos Group, artinya semua surat kabar milik kelompok ini di seluruh Indonesia dan itu jumlahnya lebih dari 100, menyikapi penahanan tersebut dengan melakukan jurus ’’serangan balik’’.

Jawa Pos Group secara efektif membangun opini publik bahwa DI dizalimi. Strategi itu juga menumbuhkan sense of common enemy, perasaan memiliki musuh bersama, yakni penguasa yang lalim, yang diwakili oleh lembaga kejaksaan.

Saya terdorong menulis artikel ini setelah mendapat SMS dari sahabat saya Ninok Leksono, wartawan senior grup Kompas yang kini menjadi rektor Universitas Multi Media milik Kompas Group di Tangerang.

Menurut Ninok, gaya/model ’’jurnalisme pembelaan’’ atas penahanan DI tersebut amat layak dikaji. ’’Apakah ini bisa disebut partisan, dominasi owner, arogansi pers, atau justru jurnalisme kesatria dan berimbang?’’ tanya Ninok. Dia menambahkan, pemberitaan gaya baru itu menarik untuk bahan skripsi atau tesis, baik ditinjau dari bahasa maupun standar jurnalistik.

Saya pada pendirian bahwa pemilik koran bebas saja memuat berita. Toh, itu kertas sendiri (tidak seperti radio dan televisi yang menggunakan ranah publik). Apalagi, kita menganut pers bebas sejak era reformasi. Rambu-rambunya juga jelas: asal tidak memfitnah, tidak mencemarkan nama baik, menghasut untuk berperang, serta mengumbar sadisme dan pornografi.