Beranda Opini
177

Membangun Peradaban Santri

BAGIKAN VIA
Oleh: M Erick Antariksa

Oleh:

Didik Suyuthi

MENGUSUNG tema Merajut Kebinekaan dan Kedaulatan Indonesia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama merayakan Hari Santri perdana tahun ini. Perayaan itu merujuk Keppres No 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Dua agenda yang konon akan dicatatkan di Museum Rekor Dunia Indonesia adalah kirab napak tilas resolusi jihad 2 ribu kilometer melintasi Banyuwangi–Cilegon–Jakarta dan pembacaan 1 miliar salawat nariyah serentak di seluruh Indonesia. Apa pesannya?

Dua kegiatan itu memiliki makna penting. Kirab resolusi jihad NU 22 Oktober 1945 tentu tidak bermaksud mengulang sejarah. Sebagai peristiwa masa lalu, sejarah hanyalah pengalaman maknawi yang berbatas ruang dan waktu. Tetapi, meminjam istilah R.G. Collingwood (1946), history is the history of thought. Sejarah adalah sejarah tentang pemikiran. Merekonstruksi sejarah berarti merekonstruksi buah pemikiran atau gagasan-gagasan yang memengaruhi masyarakat (social change) saat itu.

Itu juga yang hendak direkonstruksi pada peringatan Hari Santri. NU setidaknya merasa perlu mengonstruksi ulang apa saja yang sudah dipikirkan, dikerjakan, dikatakan, dirasakan, dan dialami para syuhada shalihin pejuang kemerdekaan. Bil khusus sang kreator utama resolusi jihad NU Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Seberapa jauh peran pemikiran dan gagasan-gagasan hadratussyaikh yang menggema sehingga menggerakkan masyarakat pada zamannya menjadi penting untuk didalami.

Perlu diuraikan bahwa merekonstruksi masa lalu dilakukan bukan untuk kepentingan masa lalu itu sendiri. Sejarah juga mempunyai kepentingan masa kini dan bahkan masa yang akan datang. Kalau dikisahkan bahwa peradaban Yunani 27 abad silam bermula di mana manusia meraba-raba dengan nalarnya, mencoba dan terus mencoba untuk menjelaskan realitas terciptanya kosmos melalui pengetahuan, merekonstruksi sejarah resolusi jihad NU juga merupakan bentuk kerja nalar yang sama untuk menjelaskan realitas bagi kepentingan idealisme kehidupan kebangsaan kita.